Jathilan dan Keterbukaan Bibit Waluyo

Masih lekat dalam ingatan, saat Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo berkata, “jaran kepang adalah kesenian paling jelek se-dunia”. Kita kemudian sepakat, sebagai seorang pemimpin, Bibit tak seharusnya berkata seperti itu. Apalagi jathilan tumbuh subur di wilayahnya sendiri, Jawa Tengah.

Apa yang dikatakan Bibit tentu punya efek yang luar biasa. Setelah gelaran The 14th Merapi and Borobudur Senior’s Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup di Borobudur International Golf and Country Club Kota Magelang, Minggu (9/9/2012) malam itu, efek di media massa sungguh luar biasa.

Kita kemudian prihatin. Bibit yang ceplas-ceplos dalam mengemukakan pendapat, yang justru cermin keterbukaan, justru ramai-ramai dihujat. Khalayak pun menyayangkan hal tersebut. Lalu, masih pantaskah dia melanjutkan kepemimpinan pada 2013-2018 mendatang?

Penegasan

Ada hal yang terlupa dan cenderung diabaikan setelah dia berkata seperti itu. Tentang ketidaklayakan grup kesenian Kartika Harapan kelurahan Rejowinangun Utara, Kota Magelang menyuguhkan jathilan di event internasional ketika itu, Bibit memberi penjelasan panjang.

Seperti dikutip jogja.okezone.com, Bibit menegaskan jika yang jelek adalah sajian kesenian yang ditampilkan waktu acara itu, bukan jathilan secara umum. “Bukan saya tidak suka jaran kepang dan kemudian menjelek-jelekannya, tapi jika kita punya yang baik kenapa ditampilkan kurang bagus. Yang saya tanggapi itu grup yang ditampilkan panitianya,” katanya, di Semarang (jogja.okezone.com, 11/9/2013).

Tentu saja, dalam acara sekelas even internasional, hendaknya ditampilkan segala hal terbaik dan dengan persiapan matang. Hal itu kemudian akan membangun kesan sempurna dan berepresentasi positif pada seluruh tamu yang hadir saat itu.

Pada media yang sama, Bibit menjelaskan kembali. “Jateng kan punya yang lebih baik, kok memamerkan yang buruk. Gamelan saja diikat-ikat dengan plastik begitu,” tutur Bibit. “Tamunya dari seluruh Indonesia bahkan di dunia.”

Orang nomor satu di Jateng itu mengatakan seharusnya Jathilan pada Minggu malam itu bisa dikemas lebih baik. Mulai dari aksesoris hingga gerakan bisa digarap lebih baik.
“Kalau yang lain (jathilan) oke, cuma tadi malam,” bantahnya.

Kesenian rakyat memiliki banyak sumbangsih pada capaian kunjungan wisata. Hal itu berlaku pula di Jawa Tengah yang menggalakkan “Visit Jateng 2013”.

Realitas seni rakyat

Jathilan, jaran kepang, kuda lumping, adalah wujud kesenian rakyat yang menggunakan properti utama tiruan jaran eblek. Kesenian ini tumbuh subur di Jawa Tengah.

Ketidaklayakan jathilan yang ditampilkan pada gelaran internasional di Magelang itu adalah cermin betapa kesenian rakyat belum tertangani dengan baik. Penampilan yang sak-sake itu serta merta membawa pada ingatan kolektif bahwa –dalam hal ini  jathilan– belum mendapat perhatian lebih, bahkan oleh orang yang terdekat sekalipun, seniman. Tak bisa dimungkiri, kendala dana tentu menjadi hal yang utama.

Dari sisi teknis, persiapan dan proses dalam berkesenian menjadi hal yang tak bisa disepelekan. Pada sekelas acara internasional, tentu saja, kesempurnaan sajian adalah wujud persiapan matang penyelenggara. Atau, berkait dengan pendanaan, tak inginkah kita menyoal sajian itu sebagai sebuah proyek? Dibayar berapa grup jathilan Kartika Harapan pada saat itu? Sudahkah memenuhi standar pementasan pada gerakan, iringan, kostum, hingga properti yang digunakan?

Terlepas dari hal apapun, pola kepemimpinan Bibit Waluyo selalu menarik untuk diikuti. Dalam tiap pidatonya, Bibit tak berbelit-belit. Semua hal buruk dikatakan seadanya, yang kurang pun tak ditutupi.

Dalam falsafah Jawa, seorang pemimpin diharapkan memiliki kautaman. Seperti halnya api yang mampu membakar, tegas namun bisa juga hangat. Membakar dan menghangatkan dengan cara tertentu juga menjadi lecutan untuk selalu menjaga; menjaga supaya orang yang dipimpin selalu berupaya dan tak gampang lengah. Termasuk menjaga dan menakar kemampuan pada upaya kritis orang-orang yang dipimpin.

Dengan pola kepemimpinan seperti itu adanya, masih pantaskah Bibit Waluyo memimpin Jawa Tengah hingga 2018 mendatang? Kita tunggu saja pada Pilgub 26 Mei mendatang.

 

Tulisan juga diposting pada: http://politik.kompasiana.com/2013/04/23/jathilan-dan-keterbukaan-bibit-waluyo-549451.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s