Tak Sedang Berpolitik

Catatan perjalanan (1)

sudijono

Politik lekat dengan keburukan. Stigma itu agaknya melekat dalam benak kita, kaum awam,  selama ini. Belum lagi karut-marut perpolitikan negeri beberapa tahun terakhir hampir tak memberi kesan positif pada “tujuan bersama” yang sering digaungkan. Kemudian, kesan menghalalkan segala cara, berhitung untung-rugi seakan pula lekat di dalamnya.

Bila memang referensi saya terlalu minim ketika berniat menulis catatan ini, saya mohon maaf. Tulisan ini tak ubahnya sebuah refleksi atas keikutsertaan saya dalam mendukung salah satu bakal gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah periode 2013-2018. Pemilihan bakal dilakukan 26 Mei mendatang.

Sungguh tak ada tendensi apalagi ingin menggiring opini Anda untuk mempunyai suara yang sama. Tapi sekali lagi, ini adalah wujud darmabakti seorang anak kepada bapak. Seorang yang merasa banyak –diberi ruang– belajar.

Bila Wikipedia menyebut jumlah penduduk Jawa Tengah berjumlah lebih dari 32 juta, maka saya katakan tak ada seperempat dari keseluruhan warga di wilayah ini yang mengenal atau akrab dengan namanya. Sudijono Sastroatmodjo, pria kelahiran Pacitan, 15 Agustus 1952 itu lebih dikenal di kalangan pendidik. Setidaknya setelah dia menjadi Rektor di Universitas Negeri Semarang (Unnes), semenjak 2006.

Entah mimpi apa yang pernah ia temui sebelum hari itu. Saat ia mendapat kabar rapat untuk koordinasi pernikahan anak Bibit Waluyo, justru ia diminta untuk mendampingi jadi wakil gubernur.

“Saya ini tak punya pengalaman untuk memimpin Jawa Tengah. Di sini permasalahan lebih banyak, saya hanya terbiasa memimpin Unnes,” akunya, seperti yang pernah dia katakan dalam sebuah perbincangan, di kediaman Kendenga Barat Sampangan Gajahmungkur Semarang.

Perihal uang dan pendanaan jika nanti harus berkampanye juga langsung menjadi keraguannya untuk menerima pinangan Ketua Dewan Penyantun Unnes itu. “Saya tak punya uang, apalagi di media sering disebut kalau nyalon gubernur itu harus punya uang 200 miliar rupiah,” ujarnya.

Tapi tentu saja, Bibit tak sembarangan memilih. Sebagai seorang pemimpin, ia pasti mengamati gerak-gerik semua hal di wilayahnya. Tak terkecuali kemajuan dan perkembangan Unnes yang kian moncer.

Namun dugaan saya pun keliru. Dalam sebuah wawancara dengan wartawan surat kabar, sang istri, Sri Hapsarining Rochyani mengaku tak ada firasat apapun. Ia hanya berkata, “Bapak (Sudijono) orangnya rajin, teliti, dan pekerja keras. Jadi sebagai istri saya mendukung saja apa yang terbaik bagi kami semua”.

Ketika saya menjadi bagian dalam upacara Pembukaan Dies Natalis ke-48 Unnes, akhir Januari tahun ini, saya pun ikut tertawa saat Sudijono berpidato. Dia menegaskan, kalau Bibit adalah Ketua Dewan penyantun Unnes. Jika dia –Bibit– mencintai Unnes, maka sebaliknya kita juga harus mencintainya. “Tolong kabarkan kepada bapak-ibu di rumah,” katanya, di hadapan mahasiswa Unnes yang mengikuti senam, pagi itu.

Tak pernah terjun ke dunia politik, tentu membuatnya tak mudah menyelami makna politik yang sebenarnya. Mengikuti kegiatannya bersosialisasi ke berbagai willayah, Sudijono –hanya– bertemu dan paparkan langkah kerja. Atau kebanyakan malah kabarkan apa yang telah ia lakukan semasa menjadi pendidik dan pemimpin di Unnes.

Isu-isu pendidikan banyak ia angkat dalam berbagai kesempatan. Tentang anak yang kurang mampu harus mendapat hak yang sama dengan mereka yang mampu. Termasuk orang miskin harus kuliah, ia tekankan pada Beasiswa Bidikmisi yang telah menjadi brand tersendiri bagi Universitas Konservasi.

Namun khalayak tak bisa mengesampingkan kiprah Sudijono dalam ranah pendidikan dan upayanya memberikan bangku kepada orang tak mampu. Tiap tahun, peraih beasiswa di Unnes selalu meningkat. Tahun 2012 bahkan Muri mencatat perguruan eks IKIP ini menjadi pelopor perguruan tinggi yang alokasikan 20% mahasiswanya bebas biaya kuliah.

Tentang Universitas Konservasi pun selalu menarik untuk diperbindangkan. Sudijono beberapa kali mendapat penghargaan dari Presiden RI dan Menteri Lingkungan Hidup atas perannya dalam melestarikan lingkungan. Memang, kampus Sekaran sekarang jauh lebih rindang dari yang dahulu. Asri dan hijaunya kampus, memang memikat perhatian publik. Awal tahun 2013, seluruh warga kampus harus berjalan. Sebuah upaya “pemaksaan” untuk mengamalkan darma konservasi yang paling mendasar.

Konservasi pun mengakar. Tak hanya lingkungan, seni-budaya menjadi hal yang juga dijamah. Delegasi tim kesenian ke luar negeri semakin sering dilakukan. Pentas tari, karawitan, hingga keroncong makin menggema di kancah internasional. Makin mengukuhkan harapan universitas bertaraf internasional.

Saya tak akan lebih banyak menjelaskan lagi. Tentu referensi tentang Unnes bisa Anda dapat dari banyak literatur. Tetapi,

Bertemu dan berbincang dengan banyak orang adalah cara Sudijono “berkampanye”. Melalui itu ia ngraketke paseduluran. Melalui itu pula makin banyak orang sadar bahwa sejatinya mereka sekasur, sedhapur, sesumur, sedulur. Lewat konsep-konsep Jawa yang sering ia lontarkan, kesadaran kolektif dan keheningan suasana jadi seakan jadi tujuan. Tujuan untuk kembali tersadar, manusia hendaknya kembali kepada hakikat, di tengah ketaksadaran karena terbius gebyar dunia.

Dan itu cara Sudijono berpolitik. Tapi bagi saya, dia tak sedang berpolitik.

Sampai hari ini, baru delapan hari saya ndherekke dia. Atas pilihan ini, kuliah yang harusnya saya ikuti pun saya lepas. Sebelum ini saya berhasil endha alias menghindar ketika diminta untuk bergabung dalam tim. Alasannya repot ngajar dan kuliah. Namun akhirnya kebalang juga. Entah. Tetapi ini sebuah pilihan dan amanah juga tanggung jawab. Bagi saya, ini lebih dari soal pekerjaan.

-Dhoni Zustiyantoro

Advertisements

Jathilan dan Keterbukaan Bibit Waluyo

Masih lekat dalam ingatan, saat Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo berkata, “jaran kepang adalah kesenian paling jelek se-dunia”. Kita kemudian sepakat, sebagai seorang pemimpin, Bibit tak seharusnya berkata seperti itu. Apalagi jathilan tumbuh subur di wilayahnya sendiri, Jawa Tengah.

Apa yang dikatakan Bibit tentu punya efek yang luar biasa. Setelah gelaran The 14th Merapi and Borobudur Senior’s Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup di Borobudur International Golf and Country Club Kota Magelang, Minggu (9/9/2012) malam itu, efek di media massa sungguh luar biasa.

Kita kemudian prihatin. Bibit yang ceplas-ceplos dalam mengemukakan pendapat, yang justru cermin keterbukaan, justru ramai-ramai dihujat. Khalayak pun menyayangkan hal tersebut. Lalu, masih pantaskah dia melanjutkan kepemimpinan pada 2013-2018 mendatang?

Penegasan

Ada hal yang terlupa dan cenderung diabaikan setelah dia berkata seperti itu. Tentang ketidaklayakan grup kesenian Kartika Harapan kelurahan Rejowinangun Utara, Kota Magelang menyuguhkan jathilan di event internasional ketika itu, Bibit memberi penjelasan panjang.

Seperti dikutip jogja.okezone.com, Bibit menegaskan jika yang jelek adalah sajian kesenian yang ditampilkan waktu acara itu, bukan jathilan secara umum. “Bukan saya tidak suka jaran kepang dan kemudian menjelek-jelekannya, tapi jika kita punya yang baik kenapa ditampilkan kurang bagus. Yang saya tanggapi itu grup yang ditampilkan panitianya,” katanya, di Semarang (jogja.okezone.com, 11/9/2013).

Tentu saja, dalam acara sekelas even internasional, hendaknya ditampilkan segala hal terbaik dan dengan persiapan matang. Hal itu kemudian akan membangun kesan sempurna dan berepresentasi positif pada seluruh tamu yang hadir saat itu.

Pada media yang sama, Bibit menjelaskan kembali. “Jateng kan punya yang lebih baik, kok memamerkan yang buruk. Gamelan saja diikat-ikat dengan plastik begitu,” tutur Bibit. “Tamunya dari seluruh Indonesia bahkan di dunia.”

Orang nomor satu di Jateng itu mengatakan seharusnya Jathilan pada Minggu malam itu bisa dikemas lebih baik. Mulai dari aksesoris hingga gerakan bisa digarap lebih baik.
“Kalau yang lain (jathilan) oke, cuma tadi malam,” bantahnya.

Kesenian rakyat memiliki banyak sumbangsih pada capaian kunjungan wisata. Hal itu berlaku pula di Jawa Tengah yang menggalakkan “Visit Jateng 2013”.

Realitas seni rakyat

Jathilan, jaran kepang, kuda lumping, adalah wujud kesenian rakyat yang menggunakan properti utama tiruan jaran eblek. Kesenian ini tumbuh subur di Jawa Tengah.

Ketidaklayakan jathilan yang ditampilkan pada gelaran internasional di Magelang itu adalah cermin betapa kesenian rakyat belum tertangani dengan baik. Penampilan yang sak-sake itu serta merta membawa pada ingatan kolektif bahwa –dalam hal ini  jathilan– belum mendapat perhatian lebih, bahkan oleh orang yang terdekat sekalipun, seniman. Tak bisa dimungkiri, kendala dana tentu menjadi hal yang utama.

Dari sisi teknis, persiapan dan proses dalam berkesenian menjadi hal yang tak bisa disepelekan. Pada sekelas acara internasional, tentu saja, kesempurnaan sajian adalah wujud persiapan matang penyelenggara. Atau, berkait dengan pendanaan, tak inginkah kita menyoal sajian itu sebagai sebuah proyek? Dibayar berapa grup jathilan Kartika Harapan pada saat itu? Sudahkah memenuhi standar pementasan pada gerakan, iringan, kostum, hingga properti yang digunakan?

Terlepas dari hal apapun, pola kepemimpinan Bibit Waluyo selalu menarik untuk diikuti. Dalam tiap pidatonya, Bibit tak berbelit-belit. Semua hal buruk dikatakan seadanya, yang kurang pun tak ditutupi.

Dalam falsafah Jawa, seorang pemimpin diharapkan memiliki kautaman. Seperti halnya api yang mampu membakar, tegas namun bisa juga hangat. Membakar dan menghangatkan dengan cara tertentu juga menjadi lecutan untuk selalu menjaga; menjaga supaya orang yang dipimpin selalu berupaya dan tak gampang lengah. Termasuk menjaga dan menakar kemampuan pada upaya kritis orang-orang yang dipimpin.

Dengan pola kepemimpinan seperti itu adanya, masih pantaskah Bibit Waluyo memimpin Jawa Tengah hingga 2018 mendatang? Kita tunggu saja pada Pilgub 26 Mei mendatang.

 

Tulisan juga diposting pada: http://politik.kompasiana.com/2013/04/23/jathilan-dan-keterbukaan-bibit-waluyo-549451.html