Seorang Ibu

Lusuh,

sebuah keranjang besar dipunggungnya

berpura-pura enteng dia bawa

yang tentu tak seenteng beban hidupnya

tanpa alas kaki mata

terseok-seok berjalan entah ke mana setelahnya

entah sampai senja ke berapa

dia terus mengambili barang yang tak kuguna

sambil sesekali tertawa

mungkin dia senang, bahagia, atau apa

kenapa aku pun bisa tertawa

sehat, kenyang, gembira, di atas perutnya, dan perut anaknya, jua suaminya

yang sedang dicarikan sesendok nasi tanpa lauk rica-rica

aku ingin mengikutinya,

menemani seok-seok langkah yang terkadang meringis,

dan mengiris tawa

 

Semarang, 11 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s