Berebut Angka Manjur

Angka kerap dianggap keramat. Pada berbagai kesempatan, banyak orang percaya angka menjadi tolok ukur keberhasilan mapun penentu kemenangan. Beberapa di antaranya bahkan sering dihindari karena dianggap tidak mendatangkan keberuntungan.

Kita masih ingat di pengujung tahun 2012 ketika datang tanggal “sakral” 12-12-2012. Selain dipercaya sebagai hari kiamat, mereka yang tidak begitu mudah percaya mempersiapkan berbagai momen untuk melewatinya. Mulai dari bepergian ke berbagai tempat “wisata kiamat” ke berbagai belahan negara, melangsungkan pernikahan, hingga bayi yang “dipaksa” lahir sebelum waktunya. Hal yang mengglobal itu seakan ditasbihkan sebagai keunggulan angka yang begitu manjur untuk melakoni banyak hal.

Di banyak pedesaan di Jawa, orang yang mencalonkan diri sebagai lurah kerap pula mendatangi orang pintar untuk meminta nomor yang kelak mendatangkan hoki. Meskipun pada akhirnya nomor urut ditentukan dalam undian, tetapi “ikhtiar” itu hampir-hampir selalu menjadi menu wajib sebelum menjadi bakal calon kepala desa.

Perihal angka, Jawa telah suguhkan banyak referensi. Semenjak dahulu kala, tiap kali mau bertindak maupun mengambil keputusan yang berkaitan dengan hal-hal besar hidup, orang Jawa selalu menggunakan petung. Berbagai cara dan keyakinan turun-temurun yang harus dilakukan orang yang akan mencapai suatu tujuan. Untuk memulaianya, orang Jawa perlu memilih hari baik. Diyakini bahwa berawal dari hari baik perjalanan usaha pun akan membuahkan hasil maksimal, terhindar dari kegagalan.

Golek dina becik, mencari hari yang baik untuk memulai sebuah usaha pada hakikatnya adalah mencari perpaduan hari, pasaran, tahun, windu dan mangsa yang menghasilkan penyatuan karakter baik. Kodrat wiradat dalam kebudayaan Jawa, menurut Anshory dalam Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa (2008), merupakan takdir Tuhan yang tidak bersifat mutlak. Manusia masih mempunyai wewenang untuk menentukan nasib dan peruntungannya dalam batas-batas tertentu.

Anshory berpendapat, kegagalan suatu usaha karena alasan takdir bukanlah suatu alasan yang tepat. Boleh jadi kegagalan itu karena ceroboh, sembrana, urakan, ugal-ugalan dan kelalaian manusia sendiri. “Hampir semua keterpurukan manusia secara kolektif berasal dari kecerobohan manusia yang dilakukan secara sengaja.” Pada ranah ini, tentu jiwa militansi harus selalu dikedepankan dalam upaya meraih tujuan.

Mengakar

Praktik sakralisasi angka masih saja berlangsung hingga era globalisasi. Terbukti dengan masih banyaknya orang menganggap angka tertentu masih membawa beruntung dan tidak beruntung. Secara umum orang menyebut 13 “sebagai angka sial”, 26 sebagai “angka musibah”, dan 7 atau 17 sebagai “angka keberuntungan”. Semua seolah berebut dan menghindar dari nasib mujur dan sial yang akan dialami.

Celakanya, perihal angka pun merambah dunia pendidikan yang ditasbihkan sebagai pondasi dasar karakter manusia. Pada ranah pendidikan formal, betapa angka adalah perwujudan tercapai tidaknya suatu pembelajaran. Melalui angkalah, dari siswa hingga mahasiswa, seseorang yang belajar akan ditentukan tingkat penguasaannya pada materi. Tetapi, kelalaian cukup fatal manakala belajar hanya bertujuan untuk mencari ijazah dengan nilai (angka) yang baik. Agaknya fenomena ini telah pula mengakar dalam kultur pendidikan kita.

Karena yang dicari nilai yang baik, maka yang terjadi adalah perilaku yang cenderung instan, licik, dan picik. Setidaknya hal itu yang dikemukakan Sujono dalam Lebih Baik Tidak Sekolah (2007). Kemudian dengan tanpa sadar, cara-cara yang tidak terpuji ini dilakukan dengan sistematis oleh sekolah, guru, dan siswa. Akhirnya, pendidikan telah berubah menjadi sebuah industri atau perusahaan jasa, bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan dan pembangunan kesadaran kritis. Angka seakan telah didewakan.

Dalam cerita pewayangan, ketamakan akan kemenangan pun sering dikisahkan. Dropadi kala itu dipertaruhkan oleh suaminya, Yudistira, karena semua hartanya habis untuk menuruti kegemarannya bermain dadu. Karena kelicikan lawannya, yakni Dursasana, Yudistira kalah dan terpaksa merelakan sang istri. Namun Dropadi tidak serta merta menurut. Syahdan, ia diseret Dursasana. Dibawa ke tempat di mana Yudistira dan saudaranya berkumpul. Hal ini serta-merta membuat keluarga Pandawa marah besar. Bima, dengan wataknya yang selalu melindungi utuhnya keluarga besarnya itu, menghajar habis Dursasana.

Kini, kisah itu seakan mawujud dalam berbagai peristiwa konstruktif-modifikatif. Kalau begitu adanya, maka benarlah pernyataan Emha jika manusia selalu terjebak dalam kurungan peradaban yang mengimani kehebatan, bertengkar atas kekuasaan, mentuhankan harta, bersimpuh pada kemenangan, juga memompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang disangka keunggulan.

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s