(Se)Langkah Menuju Manca

SEGENAP daya upaya dan dukungan dari dalam lembaga menjadi hal mendasar untuk mewujudkan world class university. Perlu pula tindakan dan upaya kritis sebelum menuju ke sana.

Pembatalan status “standar internasional” pada sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia oleh Mahkamah Konstitusi, tak bisa dianggap angin lalu. Banyak kalangan menganggap status tersebut penuh kontroversi dan diskriminasi pada mereka yang tergolong kurang mampu. Hal itu karena, tiap tahun orang tua siswa ditarik iuran supaya anaknya dapat menikmati fasilitas nan elegan itu (Tempo, 20/1). Di sisi lain, digalakkannya (R)SBI, menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010), untuk menyiapkan siswa-siswi bersaing di jagat internasional.

Lantas, apakah pembatalan status itu menjadi momok bagi lembaga pendidikan tinggi yang juga berlomba untuk mencapai hal serupa? Tentu tidak. Realitas pendidikan menengah itu sungguh berbeda dengan kondisi di perguruan tinggi. Di lembaga ini, hampir-hampir pemerintah meluncurkan segala hal pendukung. Wujud dukungan itu, sebut saja beasiswa Sandwich-Like yang tahun ini memasuki angkatan kedua. Pada beasiswa ini, mahasiswa yang belajar di luar negeri akan mencecap berbagai ilmu yang kelak diharapkan mampu memperkuat universitas di mana ia bernaung.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengharuskan pula mahasiswa program ini untuk melakukan penulisan paper atau artikel dengan mitra luar negeri untuk tujuan publikasi internasional (lihat Pedoman Sandwich-Like 2013). Tak heran, perguruan tinggi baik negeri maupun swasta beramai-ramai menyodorkan mahasiswa terbaiknya untuk meraih beasiswa itu.

Tolok Ukur

Dalam sebuah esai, Jeong dan Ou (dalam Subkhan, 2010) menyatakan, ada 12 tolok ukur yang harus menjadi pedoman sebuah universitas sehingga dapat menyandang status berkelas internasional. Pertama dilihat dari keunggulan penelitian, antara lain ditunjukkan dengan kualitasnya. Hal itu terlihat pula melalui produktivitas dan kreativitas, publikasi hasil, banyaknya lembaga donor yang bersedia membantu, serta adanya hak paten terhadap penelitian.

Kedua ditinjau dari kebebasan akademik dan atmosfer intelektual. Ketiga, dari pengelolaan diri yang kuat. Keempat, dari fasilitas dan pendanaan yang cukup memadai, termasuk kolaborasi dengan lembaga internasional. Kelima, dari keanekaragaman, antara lain kampus terdiri atas mahasiswa dengan latar belakang sosial yang berbeda, termasuk pula keragaman pada ranah keilmuan.

Keenam, dilihat dari internasionalisasi, misalnya internasionalisasi program dengan meningkatkan pertukaran mahasiswa, masuknya mahasiswa internasional atau asing, internasionalisasi kurikulum, koneksi internasional dengan lembaga lain semisal kampus dan perusahaan di seluruh dunia untuk mendirikan program berkelas dunia. Ketujuh, dilihat dari kepemimpinan yang demokratis, yaitu dengan kompetisi terbuka antar-fakultas dan mahasiswa, juga kolaborasi dengan konstituen eksternal.

Kedelapan, dilihat dari mahasiswa yang berbakat. Kesembilan, dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Kesepuluh, dilihat dari kualitas pembelajaran dalam perkuliahan. Kesebelas adalah koneksi dengan masyarakat atau kebutuhan komunitas. Keduabelas, nampak dari kolaborasi internal kampus.

Kuat dari Dalam

Sekali lagi, banyak hal yang telah ditasbihkan menjadi tolok ukur di atas tidak akan pernah terwujud tanpa dukungan semua pihak. Mendamba kelas bertaraf internasional di perguruan tinggi tanpa upaya nyata dan semangat blusukan–meminjam istilah Jokowi–adalah hasil dengan nilai nol besar.

Secara kasat mata, hegemoni konservasi boleh dikatakan telah asyik-masyuk ke dalam jiwa warga kampus Universitas Negeri Semarang. Jargon lokalitas inilah yang kemudian menyatukan dan memperkuat kita. Kalau boleh diistilahkan, warga Unnes adalah konservatoris, para pelaku konservasi yang secara nyata setiap harinya mlaku, ngepit, atau ngebis.

Cukup? Tentu tidak. Penguatan dari dalam menyangkut pula hal mendetail dan teknis. Memilih dan menempatkan orang yang tepat sesuai dengan bidangnya adalah hal normatif. Setelah itu, keinginan untuk belajar, rasa ingin tahu, dan tidak menutup diri harus pula menjadi pola pikir. “Yang lebih kita butuhkan sesungguhnya bukan orang yang pintar, melainkan wong sing ngerti,” ujar Prof Sudijono dalam sebuah kesempatan. Ya, ngerti untuk selalu ingin memahami dan menyelesaikan banyak persoalan.

Webometrics

Di lain hal, tidak bisa dimungkiri capaian Unnes di bidang media beberapa tahun terakhir sungguh menggembirakan. Tahun 2011, Unnes meraih Anugerah Media Humas, menyisihkan ratusan lembaga pemerintahan dan pendidikan tinggi. Di ranah maya pun tak mau kalah, pada laman pemeringkatan perguruan tinggi seluruh dunia, webometrics, semester kedua tahun 2010, Unnes bertengger di peringkat 23 nasional. Meski kemudian turun, hingga pada semester kedua 2012 berada pada peringkat 35 nasional.

Laman unnes.ac.id yang menjadi portal utama bagi siapa pun yang ingin mengakses informasi tentang Universitas Konservasi telah berusaha konsisten menyuguhkan berbagai informasi berkait dengan kampus. Mengusung slogan “cepat, tepat, akurat”, berdasar statistik yang dapat dilihat dari akun pengelola situs, laman ini diakses tak kurang dari 3.000 pengunjung tiap harinya.

Menjadi kuat di dunia maya adalah keharusan, karena saat ini hampir tak ada orang yang tidak memanfaatkan internet dalam kesehariannya. Setidaknya melalui berbagai jejaring sosial serupa facebook, twitter, dan blog memungkinkan orang mengakses berbagai informasi secara cepat. Sebut saja melalui akun twitter @unneskonservasi, Unnes menjawab dan mendengar berbagai pertanyaan, keluhan, pengaduan, maupun saran  khalayak tentang kampus tercinta.

Tidak hanya semangat untuk mengabarkan, capaian ini harus pula didukung oleh maju-berkembangnya jurnal ilmiah, semangat meneliti, dan “pergerakan maya” lainnya. Webometrics mensyaratkan empat hal.  (1) Size atau ukuran keterjangkauan, yakni jumlah halaman web yang dapat dijangkau oleh empat mesin pencari, Google, Yahoo, Live Search, dan Exalead; (2) visibility atau keterlihatan, yaitu jumlah total link eksternal yang unik dan dapat dijangkau oleh Yahoo Search; (3) Rich Files atau banyaknya file yang relevan dengan aktivitas akademik dan publikasi dalam format Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) and Microsoft Powerpoint (.ppt). Data tersebut diambil dari Google, Yahoo Search, Live Search and Exalead; (4) Scholar atau jumlah paper dan kutipan tiap domain akademik berupa paper, laporan penelitian dan lainnya yang masuk dalam Google Scholar. Dengan memaksimalkan semua hal itu, tentulah Unnes akan merajai dunia maya.

Tentu saja, tidak sepatutnya kita mengendurkan niat mulia pemerintah untuk memajukan keilmuan dengan menstandarkan berbagai lembaga pendidikan tinggi. Globalisasi adalah keniscayaan. Berbagai ikhtiar nan konservatif yang dilakukan Unnes adalah wujud bahwa lembaga ini tak hanya gedhe omong, tetapi mencoba membuktikannya dengan bermacam laku.

Kita pasti tidak menginginkan status berkelas internasional yang mungkin kelak banyak disandang perguruan tinggi kemudian senasib dengan pendidikan menengah. Atau, jangan sampai pula kita hanya meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain–yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut latah.

–Dhoni Zustiyantoro, dosen tidak tetap di Fakultas Bahasa dan Seni Unnes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s