Supaya Ruwat Tak Mudarat

Selain berupaya, orang melakoni banyak hal untuk memecahkan permasalahan. Salah satu tradisi yang jamak dilakukan berkait dengan kepercayaan adalah ruwatan. Melepas semua hal buruk yang menimpa, mengembalikan manusia pada hakikatnya. Tetapi apa jadinya bila ruwatan tak lagi memberikan berbagai hal nyata, malahan musibah tetap saja ada setelahnya?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2005) mendefinisikan ruwat adalah pulih kembali sebagai keadaan semula, tentang jadi-jadian, orang kena tulah. Penjabaran itu seolah mengukuhkan ruwatan memang salah satu upaya menuju dalan padhang yang bisa merampungkan berbagai perkara.

Di sisi lain, masyarakat Jawa yang selalu menjaga sistem religinya secara turun-temurun, membuktikan bahwa hal itu masih sangat “manjur” dalam memberi pencerahan–setidaknya sejenak berhenti memikirkan. Upacara-upacara ritual merupakan salah satu bentuk usaha untuk menyeimbangkan jagat yang tak lagi harmonis. Disharmoni itu terjadi saat manusia menganggap tidak lagi selaras dengan hal-hal di luar dirinya; alam, semesta, dan hal gaib. Pada posisi ini, manusia nandhang sukerta. Ia harus diruwat, dibebaskan dari segala hal buruk, rucat ruwat kala sirna.

Selalu kita ingat berbagai ritual yang dilakukan semenjak manusia lahir hingga meninggal. Ketika masih dalam kandungan, digelar mitoni pada usia kehamilan tujuh bulan, brokohan saat kelahiran, sepasaran saat bayi berumur lima hari, dan selapanan pada umur 35 hari. Selain itu, digelar pula sunatan saat anak dianggap sudah balig, hingga perkawinan. Setelah meninggal, masih pula digelar selamatan mitung dina, matang puluh, nyatus, hingga nyewu.

Berbagai ritual itu menunjukkan betapa masyarakat Jawa selalu ingin mensyukuri banyak peristiwa besar dalam hidupnya. Tidak terkecuali saat tertimpa musibah, masyarakat Jawa acapkali menggelar ruwatan, baik untuk diri pribadi maupun untuk tujuan bersama. Sering pula kita mengetahui ruwatan massal maupun ruwatan untuk kepentingan pribadi oleh mereka yang merasa sedang tidak beruntung atau tertimpa perkara yang tak kunjung terselesaikan.

Secara nyata, keadaan sukerta sering “didakwakan” di antaranya kepada anak ontang-anting, yaitu anak tunggal lelaki atau perempuan, uger-uger lawang (dua anak laki-laki), sendhang kapit pancuran (tiga anak; lelaki, wanita, lelaki), dan pancuran kapit sendang (3 anak; perempuan, lelaki, perempuan). Seiring laju zaman, orang memandang pula berbagai persolan hidup sebagai sukerta, seperti kaya tapi banyak masalah, sulit menemukan jodoh, hingga untuk tujuan lain.

Akan tetapi dalam perkara ini, orang Jawa tidak terlalu bersoal absurdisme. Mereka lebih bertolak dari permasalahan konkret di mana merasa tak bisa lepas dari pengaruh hal buruk. Masyarakat Jawa lebih mengedepankan praktik-solusi, yang lebih penting adalah penyelamatan dari suker, bukan pada pencegahannya.

Penyelamatan

Ruwatan lebih merupakan praktik penyelamatan dari sukerta daripada kisah tentang asal-usulnya sendiri. Itu tampak dalam acara ruwatan. Kisah Batara Kala, seperti dikemukakan Sindhunata dalam Petruk Jadi Guru (2006) bukanlah hal yang utama. Ia hanya semacam pengantar untuk masuk pada pelaksanaan ritual. Pada saat itulah dalang mengucapkan kata-kata suci, yaitu Rajah Kalacakra yang berisi kawruh sejatining urip, pengetahuan tentang kehidupan sejati.

Dengan rajah itu, orang menghayati kediriannya yang paling inti. Kedirian yang mempunyai kekuatan sejati. Dengan kekuatan ini ia mengenyahkan keadaannya yang suker, keadaan yang tidak sempurna menjadi sempurna. Tidak lain, dirinya sendirilah yang mampu mengatasi berbagai “kejahatan” itu.

Jika begitu adanya, nandhang sukerta adalah kondisi yang umum, nasib dari setiap manusia. Artinya, setiap manusia, entah berapa kadarnya, terkena keganasan sukerta. Atas dasar itu setiap manusia perlu disucikan, diruwat. Mereka sendiri yang harus mengenyahkan “nasib buruk” itu. Namun, harus pula diingat bahwa “penyempurnaan” terakhir tidak terletak pada dirinya, melainkan kekuatan Ilahi sendiri.

Sekali lagi, ruwatan pada hakikatnya upaya manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi. Supaya kekuatan itu mengenyahkan kejahatan dari diri dengan perantara seorang dalang yang dianggap bijaksana dan dipenuhi dengan kekuatan yang menyelamatkan. Dan, Sang Ilahi selalu berhak atas segala hal.

 

*tulisan dimuat di Sang Pamomong Suara Merdeka, Minggu (13/01/2013)

–Dhoni Zustiyantoro, penghayat sastra dan budaya, mahasiswa Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s