“Kesalahan Kita Itu Salah Banget”

Gerimis dengan sedikit terbata mengerumuni beranda. Segera saja di antara kami menyisihkan banyak benda yang rentan basah. Termasuk laptop dan gadget.

Tiga mahasiswa masih merembuk tugas dan ujian, entah mata kuliah apa. Yang jelas mereka meragu pada apa yang harunya menjadi tanggung jawab. Mungkin mereka jua ragu, bagaimana mereka bisa hidup.

Keraguan itu pula yang kemudian mengahmpiri saya. Salah satu dari mereka berkata dengan lantang, “kesalahan kita itu salah banget”. Menambah daftar keraguan saya kepada sekumpulan anak muda itu.

Begini. Setelah memahami bahwa kata kita hendaknya tak lagi diucapkan ketika berbicara di depan khalayak yang di sana ada orang selain kelompok kita, hendaknya kata “kita” tak lagi ada. Kita adalah representasi dari semua yang ada-dan yang mendengar. Banyak artis menggunakan itu. “Kita? Lo aja kali, ma monyet!”

Eh, artis itu kan tak butuh pintar.

Dan saya geram.

“Kesalahan”, sebagaimana yang diucapkan mahasiswa itu, berarti mereka–karena dia menyebut kita– tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dijalankan. Seperti salah mengerjakan soal, salah karena melanggar rambu lalu-lintas, dan sebagainya. Lantas, bagaimana dengan “kesalahan yang salah banget”?

Kecuali kalau mereka ingin jadi artis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s