Kumpul, Atau?

Seperti biasa, di sela-sela tak ada kerjaan, kebanyakan teman yang bekerja di kampus ngobrol sambil ngopi bareng di kantin. Tapi siang tadi nampaknya tak cuma ngopi dan ngobrol. Gadget yang kami miliki seakan asyik pula mengobrol–bahkan mendominasi.

Salah satu teman punya handphone keluaran terbaru ang memang bagus. Karena sedang senang-senangnya, ia selalu memegang dan hampir tak pernah diletakkan. Berbagai fitur masih ia buka-buka termasuk ingin membuat akun di twitter.

Yang lain tak ingin ketinggalan. Rata-rata kami memiliki lebih dari dua perangkat komunikasi berupa Blackberry maupun perangkat Android. Adanya jaringan internet yang tidak putus itulah yang selalu menarik untuk selalu diotak-atik. Belum lagi komunikasi dengan banyak teman lain di jejaring sosial masih mengambil minat. Itulah yang mulanya disebut sebagai gaya hidup, tetapi sekarang mau tak mau disebut sebagai kebutuhan.

Masalahnya, di meja perbincangan tak semua mendapat tempat. Tak kurang tujuh orang di antara kami ngobrol tanpa arah. Sibuk dan tak acuh pada sekitar. Ya, semua karena gadget yang tak bisa lagi ditinggal. Tawaran ngobrol sambil ngopi pun nampaknya hanya pemanis untuk selanjutnya kami lesap dalam obrolan seputar gadget.

Kemudian ajakan-ajakan berikutnya saya semakin sadar hanya akan mempertemukan dan membiarkan benda itu berkumpul. Termasuk pemiliknya yang makin pula pilu akan kesadaran itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s