Parkirkan lalu Jalan Kaki

Gagasan tentang Universitas Negeri Semarang

 

Kata pertama yang sering saya dengar sebagai respon atas universitas ini yang akan “memarkirkan” semua kendaraan di tempat parkir terpusat mulai awal tahun 2013 adalah: welhadalah!

Dalam benak kebanyakan warga kampus, mereka pasti akan bercapek-capek ria dan berkeringat untuk menjalani kewajiban ini. Tidak sedikit yang nggrundel di belakang atau bahkan cenderung kontra. Setiap kebijakan pastilah menuai kritik.

Seperti pernah dikabarakan laman ini, Unnes telah menyiapkan lima titik parkir. Parkir utama adalah gedung serba guna lima lantai di sebelah Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), halaman Masjid Ulul Albab, lapangan parkir Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Pusat Kegiatan Mahasiswa Unnes (PKMU), dan lahan parkir di sebelah lapangan sintetis Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Semua civitas academica dapat memilih tempat parkir yang paling dekat dengan tempatnya beraktivitas.

Selain itu, Unnes juga akan menyiapkan sepeda onthel dan mobil aki kering. Mobil ini akan memfasilitasi aktivitas mobile di lingkungan kampus secara gratis. Kemudian saya membayangkan pejalan kaki yang lalu lalang di antara asrinya kampus Sekaran. Wujud nyata upaya menjaga kelestarian alam dengan konsep yang berani.

Polemik?

Tentu banyak orang kemudian bertanya, dengan kebijakan itu apakah malah tidak merepotkan aktivitas di kampus karena jarak parkir dengan tempat belajar dan bekerja yang cukup jauh. Belum lagi jika musim penghujan, apakah mungkin akan dibuatkan jalur khusus semacam kanopi bagi pejalan kaki atau pesepeda menuju ke tempatnya masing-masing?

Selain itu, tipikal kampus Sekaran yang memiliki kontur jalan menanjak, apakah serta merta membuat semangat untuk nggowes itu menjadi berkurang? Kalau hujan apakah masih ada juga yang naik sepeda, atau malah berteduh menunggu hujan reda–dan menghambat  aktivitas?

Bukan hal lain, setidaknya bagi saya, ini adalah upaya untuk lebih memaknai konservasi yang sesungguhnya; berkorban dan menunjukkan daya-upaya untuk bersama mencapai tujuan yang dicitakan. Melalui semangat baru dan upaya untuk mencintai lingkungan, Unnes mengajarkan kepada kita, segenap warganya untuk menjadi fondasi, dasar bangunan yang kuat pada “bangunan” konservasi.

Dalam suatu kesempatan, Prof Sudijono pernah ngendikan, “eling pada yang wajib”. Selain setiap insan wajib berupaya atas dirinya, sudah selayaknya juga menjaga keselarasan dengan apa yang ada di sekitar. Tidak hanya dengan orang-perorang, tetapi pula pada bumi seisinya sebagai upaya memenuhi kewajiban pada jagad gedhe.

Sekali lagi, sebagai tujuan bersama, tidak selayaknya memperdebatkan atau mencari kekurangan masing-masing. Tetapi saling memberikan masukan demi maju dan tumbuh-berkembangnya kampus Sekaran kiranya menjadi kewajiban kita bersama, warga Universitas Konservasi.

Mari berjalan dan nggowes bersama. Selamat tahun baru!

 

Dwi Sulistiawan, staf UPT Humas Unnes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s