Menulis Itu…

Menulis tak selalu berangkat dari alasan bahwa tulisan kita begitu layak untuk diketahui khalayak. Tidak pula menunjukkan segenap emosi yang sebenarnya tak patut–meski terkadang penuh bumbu estetis. Atau memaksa orang lain mengetahui tentang hal seksual yang kita samarkan.

Dengan menorehkan katalah, orang lain akan memahami kita yang sesungguhnya. Tulisan adalah wakil dari penulis. Dengan membaca tulisan, orang akan membaca apa yang ada dari diri kita. Sejauh mana orang lain menangkap diri kita. Sejauh mana kita menata diri untuk menjadi lebih baik.

Dari berbagai untaian kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi wacana itulah, dari waktu ke waktu itu, nampak pula kita akan senantiasa menertawakan diri sendiri. Kedewasaan akan senantiasa terbangun dari rimba nan gelap kepenulisan. Setidaknya dari kesadaran akan kebutuhan mempermalukan diri sendiri dalam upaya meneguhkan kepribadian, menulis adalah salah satu cara.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengemukakan hal ini, menulis itu sendirian, memutuskan sendirian, berjalan sendirian di rimba belantara, nggak ada petunjuk. Semua ditanggung termasuk konsekuensinya.

Dan kopi instan mungkin adalah teman paling setia. Dengan backsong rintik gerimis yang tak selalu romantis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s