Di Antara Ingatan Tugas

Ketika ingat, hidup tak senikmat melumat coklat panas, ada sergapan ingatan tentang tugas kuliah yang belum jua rampung. Siang tadi dari empat pertanyaan tentang estetika dari Mbah Jarwo, baru kurampungkan dua. Masih ada lagi revisi teori sastra, yang paper-nya ra karuan. Juga meringkas buku teori sastra di mata kuliah yang sama.

Kalau begitu, jadi ingat pula beberapa perkataan seorang teman yang telah merampungkan studi sastranya di sebuah universitas ternama di Yogya. “Kita hanya dicetak jadi mesin. Dan peniru,” dia lantang berbicara itu di kantin kampus.

Aku hanya mendengarkannya, yang kemudian seiring aku menimpali dengan berbagai pertanyaan, ia makin asyik bak ustad berkhotbah Jumat. Katanya, mahasiswa harus banyak baca buku dan pelajari banyak teori, kemudian nanti akan ditanya sejauh mana penguasaan ia belajar.

“Lantas kita tak dibekali dengan kemampuan produksi. Pantas saja bangsa ini penuh kepura-puraan,” begitu kurang lebih ia berkata.

Dan kopi pahit masih selalu nikmat, di meja itu, di antara kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s