Bahasa Jawa Mau ke Mana?

SEMENJAK 2006, mata pelajaran bahasa Jawa menjadi muatan lokal (Mulok) wajib di SD, SMP, hingga SMA di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY. Pelajaran ini diharap dapat menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan Jawa kepada peserta didik, misalnya gotong royong, andhap asor, toleransi, kemanusiaan, dan nilai luhur lainnya.

Tentu saja, itu perlu ketika generasi muda dirasa tak lagi mau lebih dalam menyelaminya. Nilai kearifan lokal Jawa menjadi hal yang harus dimiliki siswa. Namun, sudahkah hal itu tercapai? Atau, begitu beratkah tugas guru bahasa Jawa?

Sesuai dengan Permendiknas nomor 22 tahun 2006, Mulok bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai atau aturan yang berlaku di daerahnya. Selain itu, Mulok mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional.

Setidaknya, untuk dapat mencapai semua kompetensi itu, guru bahasa Jawa dituntut kreatif-inovatif. Melalui berbagai cara, guru sedapat mungkin menjadikan pembelajaran menarik. Siswa dapat menerima ilmu dengan menyenangkan, tak hanya duduk manis di kelas, namun berbagai konsep Jawa mengharuskan siswa juga melakukan praktik –bertata-krama.

Mudah? Tentu tidak. Kultur sosial siswa yang kini tidak semua dalam kehidupan keluarganya getol mengajarkan bahasa Jawa, lebih-lebih ragam krama, membuat guru harus kerja ekstra menjejalkan semua itu. Selain urusan kesejahteraan, dalam hal ini guru bahasa Jawa juga kian “sengsara”.

Sebagai alat komunikasi, bahasa dipengaruhi langsung oleh penuturnya. Speach level atau tingkat tutur yang dimiliki bahasa Jawa semakin sulit dimengerti siswa sebagai generasi muda Jawa. Bahasa yang digunakan saat berbicara dengan teman, tentu akan berbeda pada saat matur kepada bapak atau ibu guru. Sedangkan kenyataan di lapangan, orang tua yang mempunyai waktu lebih bersama anaknya–daripada pelajaran bahasa Jawa yang paling lama 2 jam pelajaran seminggu–tidak semakin ingin tahu apalagi mengajarkan kepada anak.

Bahkan Rohmadi (2007) menyatakan, bahasa Jawa semakin jauh dari generasi muda. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari mereka masih menggunakan bahasa Jawa, dalam lingkungan yang seharusnya menggunakan bahasa Jawa krama, tidak semuanya dapat menggunakan dengan baik.

Di lingkungan sekolah, sebagai sebuah tempat yang harusnya siswa mengaplikasikan dan sebagai kawah candradimuka, siswa masih juga enggan berbahasa Jawa. Tidak jarang ketika matur dengan guru bahasa Jawa pun masih menggunakan bahasa Indonesia, atau harus lama berpikir untuk menemukan kalimat yang “dianggap” sebuah bahasa Jawa krama.

Polemik

Industiralisasi media dan perkembangan teknologi informasi yang tidak dapat dibendung, semakin menyampingkan keingintahuan dan semangat belajar yang muda untuk berbahasa Jawa. Tentu saja, alih-alih beranggapan moda ungkap itu tak lagi relevan dengan kondisi kekinian, bahasa Jawa dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Lebih jauh, bahasa Jawa tak lagi mampu menjadi media ekspresi yang muda yang merasa dinamis.

Belum lagi, di media cetak maupun elektronik, tidak pernah ada porsi yang memadai pula untuk wujud pendukung kebudayaan Jawa. Hal itu dirasa penting itu tidak sekadar memperlihatkan, tetapi juga memperkukuh jati diri sebagai upaya internalisasi nilai kebudayaan. Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Jika memang tak pernah melihat dan mengapresiasi, jangan harap baik bahasa, sastra, seni, maupun budaya Jawa akan tumbuh berkembang. Sebut saja wayang, ketoprak, maupun sajian serupa lain, hampir tak pernah menggema di jam tayang dengan trafic penonton tinggi.

Lebih jauh, melalui pembelajaran berbasis kultur lokal ini siswa peserta didik diharapkan dapat mengenal dan mengakrabi lingkungan, alam, sosial, dan budayanya; memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat; selain itu memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai atau aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Di sisi lain, kekhawatiran yang selalu muncul di media dan birokrat agaknya hanya menciptakan “romantisme lokal” yang hanya berujung pada wacana publik. Berbagai event dan acara-acara formal bertema Jawa hanya hegemoni hambar, setelahnya tidak berbekas. Bahasa Jawa hanya sampingan.

Bahasa Jawa bukanlah sebuah bongkahan keangkuhan yang antimodernisasi. Kalaupun Jawa identik dengan orang tua dan desa, maka sudah saatnya “meracuni” yang muda untuk ikut memiliki dan mengembangkan. Bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan, akan lebih bermakna bila kita bersama menjaga dan ikut ambil bagian dalam upaya menghadirkan ke-Jawaan biar tidak sirna.

 

*tulisan saya buat ketika masih menjadi guru bahasa Jawa di SMA, pertengahan 2011

-Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s