Drama, Seksualitas, dan Kita

Drama selalu menarik, setidaknya bagi saya. Karena, seperti kata Sapardi Djoko Damono, drama tidak punya bentuk yang benar-benar baku. Bukan seperti sinetron yang hanya di-file-kan, ditonton berulang-ulang dalam keadaan yang sama. Drama selalu hadirkan hal baru yang terhegemoni realitas sosial. Termasuk pula keinginan untuk selalu menampilkan kebutuhan mendasar manusia; seksualitas (?). Dan hal itu juga selalu menarik.

Kemenarikan itu tak terkecuali saat menikmati Festival Drama Berbahasa Jawa Tingkat SMA Se-Jawa Tengah, yang digelar Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes). Delapan penyaji suguhkan lakon yang mencoba tidak terbatas. Puluhan remaja menunjukkan esksistensi berbahasa Jawa. Seakan mematahkan anggapan mereka yang muda tak selalu bisa serius. Meski hanya seremonial belaka.

Jika kesempurnaan harus ditebus dengan totalitas, setidaknya kesempatan itu mewakili semangat penampil untuk suguhkan yang terbaik. Apalagi drama bermedium bahasa Jawa tidak semudah melakukan hal yang sama dengan menggunakan bahasa Indonesia. Selain melatih intonasi yang saya yakin tak semua pelakon selalu menggunakannya dalam keseharian, perihal akting dan penghayatan bukan perkara gampang. Sutradara harus mampu membenamkan daya imaji tokoh kepada remaja-remaja puber.

Tidak ada gesekan yang tidak benar-benar terjadi pada usia mereka. Saat hal-hal berbau popular dan pengagungan akan kegaulan dan ke-glamour-an yang meski tidak sepenuhnya, mereka harus mendalami peran di jalan estetis. Mencoba menghayati peran manusia sesungguhnya, di “masyarakat drama”.

Namun, agak sulit memahami kesamaan “bumbu” di antara banyak penyaji dalam gelaran itu. Dengan tanpa beban, banyak tokoh dalam drama berpakaian minim –layaknya mereka di luar sekolah (?). Sebut saja model pakaian hot pant dengan setelan kaos ketat atau longgar. Memang, hal itu untuk mendukung peran mereka sebagai “wanita nakal”.

Sebut saja lakon “Omah Kerdhus”, ada tiga tokoh yang berperan sebagai (maaf) lonthe yang hidup perkampungan pinggiran nan kumuh. Lonthe-lonthe itu setiap hari berebut “pelanggan” yang datang ke tempat yang terbiasa menjadi ajang transaksi.

Untuk mendukung itu, dengan mudah pula, dialog-dialog yang keluar dari pemeran banyak terdapat kata-kata yang memang “semestinya”. Dengan enteng mereka berkata “Padha-padha lonthe mbok sing akur”, “teronge sing mulus ya”, atau “susu saka plothotan susumu dhewe”. Tak ayal, hal ini, menurut Freud (Milner, 1992), sastra –sebagaimana halnya drama– memberikan prioritas kepada wilayah seksualitas. Tidak hanya berhenti di lakon itu, sisipan serupa muncul pula di banyak penyaji lain.

Realitas Sosial

Membicarakan keterkaitan sastra dengan kehidupan, Rudolf Unger (dalam Wellek, 1990) menyatakan, sastra bukanlah filsafat yang diterje­mahkan dalam ben­tuk pencitraan, melainkan ekspresi atau sikap umum terhadap kehidupan. Lebih lanjut Rudolf menjelaskan, permasalahan yang digarap sastra antara lain masalah nasib, yakni hubungan antara kebabasan dan keterpaksaan, semangat manusia dan alam, masalah keagamaan. Selain itu masalah mitos dan ilmu gaib, masalah yang menyangkut konsepsi manusia, hubungan manusia dengan kematian dan konsep cinta, dan masalah masyarakat dan keluarga.

Oleh sebab itu, perihal ketimpangan sosial yang banyak diangkat menjadi tema besar dalam drama bukanlah hal yang mengagetkan, namun selalu menarik untuk selalu ditampilkan. Gambaran kehidupan yang menurut Sapardi (1984) mencakup hubungan antarmasyarakat dan antarmanusia, tidak lain merupakan kritik yang reflektif.

Konsep-konsep mendasar itu dapat dikatakan upaya pemenuhan atas ketidakpuasan kondisi kekinian, yang diakui atau tidak muncul karena ketidakadilan sosial. Kelas-kelas sosial yang (di)muncul(kan) oleh kapitalisme modern semakin menimbulkan banyak korban, setidaknya dalam drama tersebut. Kemudian muncul opisisi menang-kalah, kaya-miskin, atasan-bawahan. Dan tentu saja, pengumbaran simbol seksualitas terjadi di kaum bawah. Antara “penjaja” dan “yang butuh” tak ubahnya penjual dan pembeli yang bertemu di pasar. Kontak

Dalam drama, sutradara punya andil besar. Pengadeganan hingga menjadi sempurna mawujudnya tokoh adalah tugasnya. Termasuk di banyak hal lain. Pemilihan tema yang mengena dan terasa bukan hal lain bagi penikmat adalah keberharusan yang harus dijalin secara kontinu.

Namun kesetaraan tema yang telah terjadi itu adalah wujud betapa kita tidak pernah puas.

–Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s